Budaya Kerja Jepang : Mengenal 6S dan Perbedaannya dengan 5S. Ketika mendengar tentang budaya kerja Jepang, banyak orang mungkin langsung membayangkan pekerja yang disiplin, datang tepat waktu, bekerja dengan teliti, serta terbiasa menjaga lingkungan kerja tetap rapi. Gambaran tersebut memang cukup dekat dengan berbagai praktik yang berkembang di lingkungan kerja Jepang. Namun, ada satu hal yang menarik: kedisiplinan tersebut tidak selalu dibangun hanya melalui nasihat atau aturan yang panjang. Dalam banyak praktik kerja, kebiasaan baik justru dibentuk melalui sistem yang sederhana, dilakukan berulang, dan menjadi bagian dari aktivitas sehari-hari.
Salah satu konsep yang menarik untuk dipelajari adalah budaya kerja Jepang melalui prinsip 5S dan 6S. Konsep ini sering ditemukan dalam pembahasan mengenai manufaktur, perusahaan Jepang, Lean Management, keselamatan kerja, hingga peningkatan produktivitas. Menariknya, 5S sebenarnya bukan sekadar kegiatan bersih-bersih tempat kerja. Jika dipahami lebih jauh, setiap langkahnya mengajarkan cara melihat masalah, mengurangi pemborosan, menciptakan keteraturan, dan membangun kebiasaan kerja yang lebih konsisten.
Bagi seseorang yang sedang mempersiapkan diri untuk bekerja di Jepang, memahami 5S dan 6S juga bisa menjadi bekal yang cukup berharga. Sebab, lingkungan kerja tidak hanya menilai kemampuan teknis seseorang. Cara seseorang menggunakan alat, menjaga area kerja, mengikuti prosedur, memperhatikan keselamatan, dan bekerja bersama tim juga merupakan bagian penting dari profesionalisme.
Budaya Kerja Jepang : Mengenal 6S dan Perbedaannya dengan 5S
Lalu, apa sebenarnya perbedaan 5S dan 6S? Mengapa ada perusahaan yang menggunakan istilah 5S, sementara perusahaan lainnya menggunakan 6S? Apakah 6S merupakan konsep yang sepenuhnya berbeda? Atau sebenarnya hanya pengembangan dari prinsip yang sudah ada sebelumnya?
Artikel ini akan membahasnya secara sederhana dan mendalam, mulai dari pengertian 5S, tambahan unsur Safety dalam 6S, contoh penerapannya di tempat kerja, manfaatnya bagi pekerja, hingga tips sederhana yang dapat mulai diterapkan bahkan sebelum seseorang memasuki dunia kerja di Jepang.
Mengenal 5S dalam Budaya Kerja Jepang
Secara umum, 5S terdiri dari lima istilah Jepang, yaitu Seiri, Seiton, Seiso, Seiketsu, dan Shitsuke.
Kelima istilah tersebut memiliki makna yang saling berkaitan. Kementerian Kesehatan, Tenaga Kerja dan Kesejahteraan Jepang (MHLW) menjelaskan 5S sebagai aktivitas untuk menciptakan tempat kerja yang bersih dan mendukung keselamatan melalui lima unsur tersebut.
1. Seiri — 整理
Seiri berarti memilah atau memisahkan barang yang diperlukan dari barang yang tidak diperlukan.
Sederhananya, jangan membiarkan semua barang berada di area kerja hanya karena suatu hari mungkin akan digunakan.
Misalnya, di sebuah area produksi terdapat berbagai alat, bahan, kardus, dokumen, dan perlengkapan kerja. Jika semuanya dibiarkan menumpuk, pekerja akan lebih sulit menemukan barang yang benar-benar dibutuhkan.
Dengan Seiri, barang dapat dikategorikan menjadi:
- Barang yang sering digunakan.
- Barang yang jarang digunakan.
- Barang yang tidak diperlukan.
- Barang yang harus dipindahkan ke lokasi lain.
- Barang yang perlu dibuang atau diproses sesuai aturan perusahaan.
Tujuan utamanya bukan membuat tempat kerja terlihat kosong, melainkan membuat area kerja hanya berisi hal-hal yang memang memiliki fungsi.
2. Seiton — 整頓
Setelah barang yang tidak diperlukan dipisahkan, tahap berikutnya adalah Seiton, yaitu menata barang yang diperlukan agar mudah ditemukan, diambil, digunakan, dan dikembalikan.
Prinsip sederhananya adalah: setiap barang mempunyai tempat, dan setiap orang mengetahui tempat tersebut.
Contohnya, alat yang paling sering digunakan sebaiknya ditempatkan pada lokasi yang mudah dijangkau. Lokasi penyimpanan dapat diberi label, tanda, warna, atau visual tertentu sesuai sistem perusahaan.
MHLW menjelaskan bahwa Seiton mencakup menempatkan barang yang diperlukan pada tempat dan jumlah yang telah ditentukan sehingga mudah digunakan dan diambil.
Hal kecil seperti ini sebenarnya dapat mengurangi waktu yang terbuang hanya untuk mencari alat.
3. Seiso — 清掃
Seiso berarti membersihkan.
Namun, Seiso sebaiknya tidak dipahami hanya sebagai aktivitas menyapu lantai.
Membersihkan area kerja juga dapat menjadi kesempatan untuk menemukan masalah.
Misalnya, ketika membersihkan mesin, seorang pekerja mungkin menemukan adanya kebocoran, baut yang longgar, kabel yang tidak pada tempatnya, atau bagian mesin yang mulai mengalami kerusakan.
Artinya, kegiatan membersihkan sekaligus dapat menjadi bagian dari pemeriksaan kondisi lingkungan kerja.
MHLW juga menjelaskan bahwa kebersihan membantu menemukan masalah dan dapat berhubungan dengan pencegahan kecelakaan, seperti terpeleset akibat kotoran atau minyak.
4. Seiketsu — 清潔
Setelah tempat kerja dipilah, ditata, dan dibersihkan, bagaimana caranya agar kondisi tersebut tidak hanya bertahan satu atau dua hari?
Di sinilah Seiketsu berperan.
Seiketsu berkaitan dengan menjaga kondisi yang sudah baik melalui standar dan kebiasaan yang konsisten.
Misalnya, perusahaan menentukan:
- siapa yang bertanggung jawab terhadap area tertentu;
- kapan pembersihan dilakukan;
- bagaimana alat harus disimpan;
- standar kebersihan yang harus dipenuhi;
- bagaimana kondisi abnormal dilaporkan.
Jadi, Seiketsu membantu mengubah aktivitas yang sebelumnya bersifat spontan menjadi sistem yang lebih teratur.
5. Shitsuke — 躾
S terakhir adalah Shitsuke, yang sering diterjemahkan sebagai disiplin atau membiasakan diri untuk mengikuti aturan dan standar yang telah disepakati.
MHLW memasukkan kepatuhan terhadap aturan, prosedur kerja, cara menggunakan mesin, penempatan barang, hingga kebiasaan dalam berkomunikasi sebagai bagian dari pembentukan Shitsuke.
Di sinilah 5S mulai terlihat bukan sekadar persoalan kebersihan.
Tempat kerja yang rapi bisa dibuat dalam satu hari. Namun, mempertahankan kerapian selama berbulan-bulan membutuhkan kebiasaan.
Lalu, Apa Itu 6S?
Secara sederhana, 6S adalah pengembangan dari 5S dengan menambahkan satu unsur lagi, yaitu Safety atau keselamatan.
Jika 5S terdiri dari:
- Seiri — Sort
- Seiton — Set in Order
- Seiso — Shine
- Seiketsu — Standardize
- Shitsuke — Sustain
maka 6S menambahkan:
- Safety — Keselamatan
Lean Enterprise Institute menjelaskan bahwa sebagian praktisi Lean menambahkan Safety sebagai S keenam. Artinya, 6S bukanlah sebuah sistem yang harus dipahami sebagai pengganti mutlak 5S, melainkan salah satu pengembangan dari pendekatan 5S.
Hal ini penting dipahami agar kita tidak keliru menganggap bahwa semua perusahaan Jepang pasti menggunakan istilah 6S.
Dalam praktiknya, pendekatan dapat berbeda sesuai perusahaan, industri, kebutuhan keselamatan, dan sistem manajemen yang digunakan.
Perbedaan 5S dan 6S
Perbedaan paling mudah terlihat dari adanya unsur Safety.
| Aspek | 5S | 6S |
|---|---|---|
| Seiri | Memilah barang yang diperlukan dan tidak diperlukan | Sama |
| Seiton | Menata barang agar mudah digunakan | Sama |
| Seiso | Membersihkan area dan peralatan | Sama |
| Seiketsu | Menjaga standar kondisi kerja | Sama |
| Shitsuke | Membentuk disiplin dan kebiasaan | Sama |
| Safety | Tidak menjadi S tambahan tersendiri | Ditambahkan sebagai fokus keselamatan |
Namun, secara praktik, unsur keselamatan sebenarnya tidak harus menunggu sampai konsep 6S digunakan.
Contohnya, saat melakukan Seiton, pekerja seharusnya tidak hanya berpikir, “Di mana alat ini paling mudah diambil?”
Pertanyaan yang lebih lengkap adalah:
“Di mana alat ini paling mudah diambil dan tetap aman bagi pekerja?”
Inilah perbedaan cara berpikir yang penting.
Mengapa Safety Menjadi Penting?
Bayangkan sebuah alat diletakkan sangat dekat dengan pekerja agar mudah diambil. Secara Seiton mungkin terlihat efisien.
Tetapi bagaimana jika posisi tersebut membuat pekerja harus membungkuk terlalu dalam, berpotensi tersandung, atau harus melewati jalur forklift?
Dari sudut pandang produktivitas mungkin terlihat praktis, tetapi dari sisi keselamatan justru dapat menimbulkan risiko.
Karena itu, ketika Safety dimasukkan ke dalam 6S, penataan tempat kerja tidak hanya bertujuan membuat pekerjaan lebih cepat.
Ada pertanyaan tambahan:
Apakah cara kerja tersebut aman?
Inilah salah satu alasan mengapa unsur keselamatan sangat relevan untuk lingkungan kerja modern.
6S Bukan Sekadar Membuat Tempat Kerja Terlihat Rapi
Ada kesalahpahaman yang cukup umum mengenai 5S dan 6S.
Kadang-kadang orang menganggap bahwa perusahaan menerapkan 5S hanya supaya lantai bersih, meja rapi, dan barang tersusun bagus ketika ada pemeriksaan.
Padahal tujuan 5S jauh lebih luas.
Lean Enterprise Institute menjelaskan bahwa tujuan 5S tidak berhenti pada kegiatan bersih-bersih. Prinsip ini dapat digunakan untuk membangun standar, mengungkap masalah, mengurangi pemborosan, serta menciptakan lingkungan kerja yang mendukung perbaikan berkelanjutan.
Dengan kata lain, tempat kerja yang rapi bukan tujuan akhir.
Kerapian adalah salah satu cara untuk membuat masalah lebih mudah terlihat.
Contoh Sederhana Penerapan 6S di Tempat Kerja
Misalnya seseorang bekerja di sebuah area produksi.
Sebelum menerapkan 6S, terdapat beberapa masalah:
- alat sering berpindah tempat;
- material menumpuk;
- beberapa barang tidak memiliki label;
- lantai terkadang terkena cairan;
- pekerja membutuhkan waktu untuk mencari alat;
- jalur berjalan bercampur dengan area penyimpanan.
Kemudian dilakukan penerapan 6S.
Seiri: barang yang tidak diperlukan dipisahkan.
Seiton: alat yang masih digunakan ditempatkan sesuai lokasi dan diberi penanda.
Seiso: area dibersihkan sekaligus diperiksa.
Seiketsu: dibuat standar sederhana mengenai posisi barang dan jadwal pemeriksaan.
Shitsuke: pekerja dibiasakan mengembalikan alat setelah digunakan.
Safety: jalur kerja diberi batas, potensi bahaya diidentifikasi, dan kondisi tidak aman dilaporkan.
Perubahannya mungkin terlihat sederhana.
Namun, jika dilakukan secara konsisten, efeknya bisa terasa dalam aktivitas sehari-hari.
Waktu mencari alat dapat berkurang. Area kerja lebih mudah dipantau. Potensi bahaya lebih cepat terlihat. Pekerja juga memiliki pemahaman yang sama mengenai standar area kerja.
Contoh Pengalaman yang Sering Terjadi
Bayangkan seorang pekerja baru memasuki lingkungan kerja yang memiliki banyak alat dengan bentuk hampir sama.
Pada hari pertama, ia mungkin membutuhkan waktu cukup lama untuk mengetahui lokasi masing-masing alat.
Jika tidak ada sistem penataan, pekerja harus bertanya kepada senior setiap kali membutuhkan sesuatu.
Sebaliknya, jika area tersebut memiliki label yang jelas, garis lokasi, tanda visual, dan aturan penyimpanan yang mudah dipahami, pekerja baru dapat belajar lebih cepat.
Di sinilah 5S dan 6S dapat membantu bukan hanya pekerja lama, tetapi juga pekerja baru.
Pengalaman seperti ini menunjukkan bahwa sistem yang baik tidak seharusnya membuat pekerja merasa terus-menerus diawasi. Justru sistem yang jelas dapat membantu seseorang bekerja dengan lebih percaya diri karena mengetahui standar yang harus diikuti.
Bagaimana 6S Bisa Membantu Pekerja Indonesia yang Ingin Bekerja di Jepang?
Bagi calon pekerja Indonesia yang ingin bekerja di Jepang, memahami konsep ini dapat menjadi latihan pola pikir sebelum berangkat.
Tidak perlu menunggu sampai berada di Jepang untuk mulai menerapkannya.
Contohnya dapat dimulai dari kamar, meja belajar, tempat kerja, atau ruang latihan.
Biasakan bertanya:
Seiri: Apakah barang ini memang diperlukan?
Seiton: Kalau diperlukan, apakah saya tahu tempat menyimpannya?
Seiso: Apakah area ini bersih dan mudah diperiksa?
Seiketsu: Apakah kondisi tersebut bisa dipertahankan?
Shitsuke: Apakah saya konsisten melakukannya?
Safety: Apakah cara saya melakukan pekerjaan sudah aman?
Pertanyaan sederhana tersebut dapat membantu membangun kebiasaan kerja yang lebih terstruktur.
Tips Menerapkan 6S Mulai dari Hal Kecil
Tidak perlu langsung membuat sistem yang rumit. Beberapa langkah berikut bisa menjadi latihan.
1. Mulai dari satu area
Pilih satu meja, lemari, kamar, atau area kerja.
Jangan langsung mencoba mengubah semuanya sekaligus.
2. Pisahkan barang yang benar-benar dibutuhkan
Barang yang sudah tidak digunakan jangan dibiarkan menumpuk tanpa alasan.
3. Beri tempat yang jelas
Jika suatu barang digunakan setiap hari, pastikan lokasinya mudah ditemukan dan dikembalikan.
4. Gunakan label
Label sederhana dapat membantu orang lain memahami sistem yang digunakan.
5. Bersihkan sambil memeriksa
Jangan hanya membersihkan. Perhatikan apakah ada kerusakan, kebocoran, kabel berantakan, atau potensi bahaya.
6. Buat standar sederhana
Tidak harus langsung membuat dokumen panjang.
Bisa dimulai dengan aturan sederhana seperti:
“Setelah digunakan, alat dikembalikan ke tempat semula.”
7. Biasakan konsisten
Kerapian yang hanya dilakukan ketika ada pemeriksaan belum tentu menunjukkan budaya kerja yang kuat.
Yang lebih penting adalah kebiasaan sehari-hari.
8. Utamakan keselamatan
Jangan mengorbankan keselamatan hanya demi pekerjaan menjadi lebih cepat.
Jika menemukan kondisi berbahaya, ikuti prosedur perusahaan untuk melaporkannya.
5S dan 6S di Era Kerja Modern
Menariknya, konsep 5S tidak hanya relevan untuk pabrik.
Prinsipnya juga dapat diterapkan pada kantor, gudang, rumah sakit, sekolah, hingga pengelolaan dokumen digital.
Misalnya, folder komputer yang berisi ribuan file tanpa nama yang jelas sebenarnya memiliki masalah yang mirip dengan gudang yang berantakan.
File yang sudah tidak diperlukan dapat dipilah.
Dokumen penting dapat disusun berdasarkan kategori.
Nama folder dan file dapat distandarkan.
Kemudian sistem tersebut dipertahankan agar mudah digunakan oleh anggota tim lain.
Lean Enterprise Institute bahkan membahas penerapan prinsip 5S untuk informasi dan file digital.
Artinya, filosofi di balik 5S dapat disesuaikan dengan perkembangan lingkungan kerja.
Hal yang Perlu Dihindari Saat Menerapkan 5S atau 6S
Ada satu hal yang juga perlu diperhatikan: jangan sampai 5S berubah menjadi sekadar kegiatan mencari kesalahan pekerja.
Jika setiap audit hanya digunakan untuk menunjuk siapa yang salah, pekerja mungkin akan merasa takut dan akhirnya hanya merapikan area ketika pemeriksaan akan dilakukan.
Padahal, semangat perbaikan berkelanjutan membutuhkan keterlibatan orang yang melakukan pekerjaan secara langsung.
Lean Enterprise Institute menekankan bahwa 5S sebaiknya tidak berubah menjadi program birokratis yang hanya mengejar tampilan rapi. Fokusnya adalah membantu tim memiliki lingkungan kerja yang mendukung pekerjaan standar dan perbaikan.
Karena itu, pendekatan yang lebih baik adalah bertanya:
“Apa yang membuat pekerjaan ini sulit?”
“Apa yang membuat alat sulit ditemukan?”
“Apakah ada potensi bahaya?”
“Bagaimana kita bisa membuat proses ini lebih aman dan mudah?”
Pertanyaan seperti ini biasanya lebih konstruktif daripada sekadar mengatakan bahwa area kerja seseorang berantakan.
Apakah 6S Hanya Berlaku untuk Orang yang Bekerja di Pabrik?
Tidak.
Walaupun 5S banyak dikenal dari lingkungan manufaktur dan Lean Management, prinsipnya dapat diterapkan pada berbagai bidang.
Contohnya:
Pekerja kantor: mengatur dokumen dan ruang kerja.
Gudang: mengatur lokasi barang dan jalur pergerakan.
Restoran: menata peralatan serta menjaga kebersihan area kerja.
Teknisi: memastikan alat tersedia, tersusun, dan aman digunakan.
Tenaga kesehatan: menjaga keteraturan perlengkapan dan kebersihan area.
Pekerja magang atau pemula: membangun kebiasaan mengikuti standar kerja sejak awal.
Jadi, memahami 5S dan 6S bukan hanya tentang mengetahui istilah bahasa Jepang.
Yang lebih penting adalah memahami pola berpikir di baliknya.
FAQ Seputar 5S dan 6S
1. Apa itu 5S dalam budaya kerja Jepang?
5S adalah metode yang terdiri dari Seiri, Seiton, Seiso, Seiketsu, dan Shitsuke. Prinsipnya berkaitan dengan memilah barang yang diperlukan, menata, membersihkan, menjaga standar, dan membangun kebiasaan disiplin di tempat kerja.
2. Apa perbedaan 5S dan 6S?
Perbedaan utamanya adalah 6S menambahkan Safety atau keselamatan sebagai unsur keenam. Namun, 6S bukan berarti semua perusahaan Jepang menggunakan standar yang sama. Beberapa organisasi menggunakan 5S, sementara sebagian praktisi Lean menambahkan Safety sebagai S keenam.
3. Apakah 5S hanya diterapkan di perusahaan Jepang?
Tidak. Prinsip 5S telah digunakan secara luas di berbagai negara dan berbagai bidang. Konsep ini juga dapat diterapkan di kantor, gudang, fasilitas kesehatan, hingga pengelolaan informasi dan dokumen digital.
4. Mengapa Safety penting dalam 6S?
Safety membantu memastikan bahwa keteraturan dan efisiensi tempat kerja tidak mengabaikan keselamatan. Penempatan alat, kebersihan, jalur kerja, penggunaan mesin, dan prosedur kerja perlu dipertimbangkan dari sisi keamanan.
5. Bagaimana cara belajar 5S dan 6S sebelum bekerja di Jepang?
Cara sederhana adalah membiasakan diri dengan istilah Seiri, Seiton, Seiso, Seiketsu, Shitsuke, dan Safety, kemudian mencoba menerapkannya dalam aktivitas sehari-hari. Bagi calon pekerja yang ingin bekerja di Jepang, pelatihan kerja, bahasa Jepang, budaya kerja, serta pemahaman keselamatan juga dapat menjadi bekal yang saling melengkapi.
Kesimpulan
Budaya kerja Jepang sering kali terlihat dari hal-hal sederhana: bagaimana seseorang menempatkan alat, menjaga kebersihan, mengikuti aturan, menghargai waktu, bekerja bersama tim, dan memperhatikan keselamatan.
5S dan 6S memberikan gambaran bahwa budaya kerja yang baik tidak selalu harus dimulai dari sesuatu yang besar.
Kadang-kadang perubahan justru dimulai dari pertanyaan sederhana: “Apakah barang ini masih diperlukan?”, “Apakah saya bisa menemukan alat ini dengan mudah?”, atau “Apakah cara kerja ini sudah aman?”
5S mengajarkan keteraturan melalui Seiri, Seiton, Seiso, Seiketsu, dan Shitsuke. Sementara itu, 6S menambahkan penekanan pada Safety sehingga aspek keselamatan menjadi bagian yang lebih eksplisit dalam cara kerja.
Yang juga penting, kita tidak perlu melihat 5S atau 6S sebagai aturan yang harus diterapkan secara kaku tanpa memahami konteks. Setiap perusahaan dapat memiliki standar dan prosedurnya masing-masing. Justru kemampuan untuk memahami aturan, mengikuti standar, menjaga keselamatan, dan terus belajar merupakan bekal yang sangat berguna di lingkungan kerja mana pun.
Bagi calon pekerja Indonesia yang ingin berkarier di Jepang, mempelajari 5S dan 6S dapat menjadi salah satu langkah untuk mengenal kebiasaan kerja yang mungkin ditemui di lingkungan profesional Jepang. Tidak perlu menunggu sampai tiba di Jepang. Kebiasaan tersebut dapat mulai dilatih dari lingkungan terdekat.
Karena pada akhirnya, tempat kerja yang baik bukan hanya tempat yang terlihat rapi. Tempat kerja yang baik adalah tempat di mana orang dapat bekerja dengan lebih aman, memahami tanggung jawabnya, menemukan apa yang dibutuhkan, serta memiliki kesempatan untuk terus memperbaiki cara kerja.
Budaya Kerja Jepang : Mengenal 6S dan Perbedaannya dengan 5S
Sumber Referensi
- Ministry of Health, Labour and Welfare (MHLW) Jepang — materi resmi mengenai 5S dan keselamatan kerja.
MHLW Jepang – 5S dan keselamatan kerja - Lean Enterprise Institute — penjelasan mengenai 5S, tujuan penerapan, dan penambahan Safety sebagai S keenam oleh sebagian praktisi Lean.
Lean Enterprise Institute – What is 5S? - Lean Enterprise Institute — pembahasan mengenai penerapan 5S sebagai pola pikir dan praktik perbaikan berkelanjutan.
Lean Enterprise Institute – 5S Is a Way of Thinking and Practice
Ingin Mempersiapkan Diri Bekerja di Jepang?
Memahami budaya kerja Jepang, termasuk 5S dan 6S, akan lebih bermanfaat jika dibarengi dengan persiapan bahasa Jepang, pengetahuan budaya kerja, kedisiplinan, serta keterampilan yang sesuai dengan bidang pekerjaan.
Bagi Anda yang sedang mempersiapkan diri untuk bekerja atau mengikuti program ke Jepang, LPK AICHI TRAINING CENTER dapat menjadi salah satu tempat untuk mendapatkan informasi dan pendampingan mengenai persiapan kerja ke Jepang.
Pelajari informasi program dan pelatihan yang tersedia melalui:
Semoga pembahasan mengenai 5S dan 6S ini dapat menjadi tambahan wawasan yang bermanfaat, khususnya bagi Anda yang sedang mempersiapkan diri untuk memasuki dunia kerja dan ingin mengenal lebih dekat kebiasaan profesional yang berkembang di Jepang.
LPK Kerja di Jepang – Lembaga Pelatihan Kerja Magang Resmi – Aichi Training Center (ATC)
Aichi Training Center (ATC) adalah lembaga terkemuka yang berfokus pada pendidikan, pelatihan tenaga kerja, dan program belajar di Jepang. Didirikan pada tahun 2014 dan resmi beroperasi sejak 2 Juli 2018, ATC telah membangun reputasi sebagai pusat pelatihan dan rekrutmen terpercaya. Kami bekerja sama dengan banyak perusahaan dan institusi di Jepang untuk memastikan peserta dari Indonesia mendapatkan peluang terbaik dalam karier dan pendidikan di Jepang.
Pada Februari 2022, kami memulai operasi skala penuh sebagai organisasi pengirim di Indonesia. Nur Komariah sebagai Direktur, dan staf saat ini terdiri dari 10 orang di bagian pendidikan dan 10 orang di bagian dokumen. Memulai keberangkatan pada Maret 2022, dan per Desember ada sekitar 600 trainee praktek kerja yang berada di Jepang. Bidang pekerjaan terkait dengan konstruksi (30%), pertanian (20%), pengolahan makanan (20%), dan (30%) lainnya di berbagai bidang seperti mesin dan logam, cetakan plastik, pengecatan, pembersihan bangunan dll.
Perusahaan kami secara khusus berfokus pada pengembangan karakter trainee praktek kerja, dan hanya fokus memberikan pengetahuan untuk bekerja di Jepang. Kami memastikan setiap peserta mendapatkan pelatihan intensif bahasa Jepang agar memenuhi standar perusahaan atau institusi yang dituju. Selain itu, kami membekali mereka dengan pelatihan keterampilan, orientasi budaya, serta pengembangan karakter agar siap menghadapi dunia kerja dan pendidikan di Jepang.
Program LPK Aichi Training Center (ATC)
- Magang Jepang – Ginou Jisshusei >> Daftar dan Biaya
- Engineering >> Daftar dan Biaya
- Visa Kerja – Tokutei Ginou >> Daftar dan Biaya
- Perawat – Kaigo >> Daftar dan Biaya
Hubungi Kami :
ALAMAT INDONESIA
Jl. Raya Pulo Mangga No.53, RT.02/RW.05, Grogol, Kec. Limo, Kota Depok, Jawa Barat 16512
Contact Info
- info@aichitrainingcenter.com
- +6281398000380 日本事務所
ALAMAT JEPANG
〒465-0012 愛知県名古屋市名東区文教台2-508D ATC合同会社
Contact Info
- info@aichitrainingcenter.com
- https://www.instagram.com/aichitrainingcenterofficial/
- 052-710-7461
- Fax: 052-710-7463

